Rabu, 09 Januari 2013

Cerpen


I HATE RAIN BUT I LOVE IT

“AKU BENCI HUJAN MAMA!! BENCIII!!!!” teriak Nita di dalam kamarnya.
“Tapi kamu harus kuliah sayang, ini udah mau jam 07.00,” kata mamanya.
            Sekiranya begitulah setiap kali hujan datang mengguyur rumahnya, Nita pasti akan mengurung dirinya di kamar. Menurutnya hujan itu sebuah malapetaka dan ia sangat membenci hujan.
            Sekitar pukul 10.00 hujan baru benar-benar berhenti dan seperti biasanya di saat hujan datang, Nita tidak akan pergi ke kampus. Untuk sarapan pun enggan, boneka-boneka di kamarnya seakan setia menemaninya di kala hujan datang.
“Ma, Nita laper,” ucapnya sambil memegangi perutnya menuruni anak tangga di rumahnya.
“Bentar ya sayang, mama siapin makanan untuk kamu,” jawab mama.
            Setelah makan, Nita balik lagi ke kamarnya untuk sekedar bermain permainan yang ada di laptopnya.
“Nita sayang, mandi dulu kamu sudah siang,” kata mama mengingatkan.
“Iya mah sebentar lagi,” jawabnya.
            Sejak dua tahun yang lalu ia sangat membenci hujan. Kehadiran hujan seakan membuatnya untuk mengingat kejadian 2 tahun silam saat Renno teman dekat Nita meninggal saat kecelakaan mobil bersamanya. Malam itu saat Nita dan Renno ingin menjemput Mamanya di Bandara, mobil yang dikendarai Renno oleng dan menabrak sebuah tiang yang ada di sana. Saat itu hujan turun dengan derasnya dan mereka pun mengalami kecelakaan itu. Renno meninggal di lokasi kejadian sedangkan Nita sendiri mengalami luka yang cukup parah di kepalanya dan hampir satu minggu ia mengalami koma di rumahsakit.

“Mah, Pah Sabtu besok Nita lomba paduan suara antar Universitas tingkat Nasional,” ungkapnya dengan mata berbinar-binar.
“Wah, bagus dong sayang. Mama dan Papa pasti dateng nonton kamu. Kamu sudah latihan belum biar tampil bagus?” tanya mama.
“Udah dong mah, setiap hari Nita latihan padus sama temen-temen yang lain. Doain Nita ya mah,” ucapnya lagi sambil tersenyum.
“Pasti sayang, doa mama menyertai kamu,” kata mama sambil mencium kening Nita.

“Ayo kalian sudah siap belum? teriak Ibu Rina pelatih paduan suara di Kampus Nita.
“Iya bu iya sebentar lagi bu kita lagi siap-siap,” beberapa orang menyautinya.
“Sebelum kita tampil kita berdoa dulu ya,” ucap Bu Rina.
            Semuanya berkumpul membentuk lingkaran besar dan semuanya menundukkan kepala mereka. Berdoa pun di mulai dengan di pimpin Ibu Rina sendiri.
“Ayo semuanya baris dengan rapi, masuk ke panggung dengan barisan yang kemarin sudah Ibu ajarkan ya,” katanya.
            Satu per satu anak-anak paduan suara itu pun masuk sesuai barisannya. Mereka semuanya berhasil membawakan dua buah lagu yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Dan mereka pun bergegas meninggalkan panggung dengan gembira.
“Horeeeeee, akhirnya kita berhasil menyanyikan dua lagu itu. Masalah menang atau kalah itu urusan nanti, yeeeeey.” ucap Tania.
“Akhirnya kita bisa ya, Nit.” sambungnya lagi.
“Iya Tan akhirnya. Gue gak malu-maluin nyokap gue lah ya yang udah dateng ke sini nonton gue hehehe,” ujarnya.
            Namun, kegembiraan mereka harus terhenti ketika melihat Nita yang tiba-tiba histeris berteriak dan meninggalkan ruang tunggu yang ada di sana.
“Nitt........ Nitaaaaa.....” teriak beberapa orang teman Nita sambil mengejarnya.
            Namun Nita begitu cepat meninggalkan tempat itu dan teman-temannya pun kehilangan jejaknya. Nita pergi meninggalkan tempat itu karena tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya disertai suara petir yang menggelegar. Ia berlari jauh meninggalkan gedung pertunjukan tersebut dan terhenti di sebuah halte yang tidak jauh dari gedung tersebut. Ia bingung harus pergi ke mana karena memang dia asing dengan tempat itu. Nita hanya tertunduk lemas sambil melihat kendaraan lewat di depannya. Tak hentinya ia menangis sambil menutup ke dua telinganya.
“Renno... Renno tolong Aku Renno..... hikkkksssss” lirihnya.
            Masih dalam keadaan menangis tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri dia dengan sebuah payung hitam.
“Hey nona manis, sedang apa kamu di sini sendirian?” tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba datang menghampirinya.
“Kamu siapa?” jawab Nita ketakutan.
“Kamu jangan takut, aku kebetulan lewat di sini tadi. Rumah saya tidak jauh dari sini dan saya melihat ada seorang perempuan duduk sendiri di halte ini. Memang kamu sedang apa ada di sini hujan-hujan begini?” tanyanya lagi.
“Gue Nita,” jawabnya singkat.
“Nama yang bagus. Aku Satria. Oiya terus kamu kenapa ada di sini? Badan kamu juga basah kuyup begini, memang abis dari mana?” tanyanya lagi.
            Nita menatap tajam lelaki yang baru ia kenal barusan. Tatapan Nita di balas dengan senyuman manis dari Satria. Deg... Hati Nita pun terasa seperti melihat sosok Renno. Ah, tidak mungkin, Nita meyakini hatinya lagi. Namun, semakin lama ia menatap lelaki itu semakin bergetar juga hati Nita. Ada apa ini? Tanyanya heran dalam hati. Apa mungkin dia Renno yang menyamar sebagai manusia? Ah, itu hanya ada di sinetron dan dongeng-dongeng saja. Ini mustahil. Lamunan Nita ternyata membuat Satria heran.
“Hey, Nit? Kamu baik-baik aja kan?” tanya Satria, namun kini wajahnya sedikit lebih dekat dari wajah Nita dan membuat Nita kaget.
“Haah, gak apa-apa kok.” jawab Nita tenang.
“Yaudah yuk saya antar kamu pulang, rumah kamu di mana?” tanyanya lagi.
“Pulang? Naik apa?” kata Nita bingung. “Jalan kaki gitu?” tanyanya heran.
“Hahahaha Nit Nit... Masih banyak taksi kok jam segini, kok kamu bingung gitu,” ucap Satria sambil tertawa.
“Manis sekali dia waktu tertawa,” ucap Nita dalam hati.
“Oh, iya ya hehehe sampe lupa gue. Yaudah yuk mana taksinya.” tanyanya lagi.
“Tuh udah ada di depan mata kamu,” jawab Satria sambil tersenyum.
            Satria membuat Nita merasa heran. Sejak kapan ada taksi berhenti di depan mereka dan mengapa pula Satria tiba-tiba hadir di saat Nita ketakutan dalam hujan dan saat itu pula Satria mampu membuat Nita lupa tentang hujan yang mengguyur halte tempat mereka bertemu itu. Ah, ini ajaib. Nita masih bertanya-tanya keheranan di dalam hatinya. Apa mungkin Renno yang melakukan ini semua. Pertanyaan-pertanyaan itu semua muncul di dalam benak Nita hingga akhirnya Nita terbangun dari tidurnya.
“Nit, kamu sudah bangun? Mama khawatir kemarin nyariin kamu ternyata kamu sudah sampai di rumah,” kata mama Nit dengan muka khawatir.
“Nita baik-baik aja kok mah. Kemarin Nita dianter pulang sama seorang lelaki hmmm namanya Satria mah,” jawabnya sambil tersenyum.
“Satria? Siapa itu Satria?” ujar mamanya heran.
“Aku juga gak tau mah, Satria tiba-tiba datang pas aku ketakutan di halte depan gedung kemarin. Terus dia ngajak aku pulang naik taksi,” tambahnya.
“Yasudah, kalo gitu sekarang kamu makan dulu ya. Mama siapin dulu buburnya,” ucapnya sambil meninggalkan Nita di kamar.
            Pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi dalam benak Nita. Siapa itu Satria? Dari mana asalnya? Kenapa dia tiba-tiba hadir di saat Nita ketakutan akan hujan. Hingga sampai akhirnya Nita bertemu lagi dengan Satria di depan komplek rumahnya yang setelah tiga hari ia istirahat total di rumah dan tidak masuk kuliah.
“Mang mang mang berhenti mang,” ucap Nita menyuruh supirnya berhenti di depan komplek rumahnya.
“Ada apa neng Nita? Kok minta berhenti di sini?” tanya mang Udin keheranan.
“Ada temen aku di situ. Aku turun di sini aja ya mang, mang Udin duluan aja. Bilang mama aku nemuin temen aku dulu di sini,” ucap Nita sambil bergegas membuka pintu mobilnya dan membiarkan mang Udin kebingungan.
            Agak sedikit berjalan cepat, Nita memegang pundak lelaki yang sedari tadi duduk di dekat taman dekat komplek rumahnya.
“Satria?” tanya Nita pelan.
“Hey nona manis Nita,” jawab Satria sambil memutar badannya ke arah Nita dengan senyuman khasnya.
“Hey Sat, akhirnya kita ketemu lagi. Lo kok bisa ada di sini?” tanya Nita heran.
“Pengen ketemu kamu aja, Nit. Gak apa-apa kan?” ujarnya lagi sambil tersenyum.
“Ya gapapa lah, Sat. Kebetulan banget ketemu kamu di sini, aku kan belum ngucapin makasih sama kamu udah nganterin aku sampe rumah waktu itu,” ucap Nita lagi dan kali ini tutur bahasanya ke Satria lebih halus.
“Jangan bilang makasih ke aku dong, makasihnya ke supir taksi, kan dia yang nganterin kamu sampe rumah hehehe,” jawabnya bercanda.
“Ah, kamu bisa aja. Tapi emang iya sih hahaha,” ucap Nita sambil tertawa.
            Sore itu pun mereka lewati dengan mengobrol santai di taman depan komplek rumah Nita. Mereka bercerita satu sama lain agar mengenal dekat sosok masing-masing. Semua pertanyaan yang dilontarkan Nita semuanya di jawab baik dengan Satria, begitu juga sebaliknya. Bahkan hari itu Nita menceritakan semua alasannya perihal ketakutannya saat hujan datang. Dan hari itu terasa begitu sempurna karena Nita seakan-akan menemukan teman baru yang begitu mengerti keadannya dan yang terlebih penting sore itu tidak turun hujan.
            Sudah satu minggu lebih Nita tidak melihat Satria di taman itu. Sudah tiga hari pula Nita menunggu kedatangan Satria setiap pulang kuliah di sana. Nita merasa ada sesuatu yang  hilang saat tidak bertemu Satria. Kemana dia? Tanyanya heran. Tiga hari itu juga Nita lewati di dalam mobil bersama mang Udin dalam keadaan hujan. Ya, hujan. Mengapa Nita tidak takut dengan hujan? Bahkan ia berani menunggu di dalam mobil ditengah hujan lebat. Mang Udin pun bertanya-tanya dalam hati. Nita terus memandangi kaca mobilnya dan sesekali ia mengelap embun yang menempel di kaca saat hujan turun. Sat, kamu kemana sih, lirihnya dalam hati. Satria memang pernah bilang ke Nita bahwa dirinya akan datang membawa payung hitam di saat hujan turun dan kata-kata itu ingin Nita buktikan dari tiga hari belakangan. Namun, mengapa Satri tidak muncul juga? Akhirnya di hari ketiga itu Nita menyerah untuk membuktikan semua perkataan Satria. Ia pun meninggalkan taman itu.
“Mang, pulang aja yuk,” ucap Nita lirih.
“Baik neng,” jawab mang Udin.
            Mobil hitam itu pun melaju menuju rumah Nita. Sesampainya di rumah, Nita bergegas masuk ke kamar dengan raut muka sedih. Ah, dasar lelaki pembohong, ujarnya kesal. Nita pun membuka laptopnya untuk bermain games. Tak lama Nita mendapatkan sebuah sms masuk ke ponselnya dengan nomor yang tidak dikenalnya.
Hay nona manis, maaf ya aku udah membuat kamu menunggu berhari-hari di taman depan komplek rumahmu. Maaf, bukan maksud untuk membohongi kamu, tapi aku sedang ada keperluan di luar sana. Aku harap dengan kamu mengenal aku, kamu sudah tidak lagi takut jika hujan turun. Jangan pernah menyalahi hujan tentang kematian Renno, karena sesungguhnya hujan itu hanya sebuah air yang dijatuhkan ke bumi. Mulai sekarang kamu harus menyukai hujan ya, Nit karena aku sangat menyukainya dan aku sudah menganggap bahwa aku adalah bagian dari tetesan air yang diturunkan di muka bumi ini. Sampai bertemu lagi, Nit. Walaupun raga kita jauh, tapi aku akan selalu hadir di kala hujan datang, mungkin dalam mimpi kamu hehhe. Maaf ya aku belum bisa menemui kamu dalam waktu dekat ini. Salam hangat, Satria.
            Tiba-tiba Nita menjatuhkan air matanya, Nita pun bingung tau darimana Satria nomor handphonenya. Dan semenjak itu, sms dari Satria di simpan baik di ponsel Nita dan Nita pun mulai menyukai hujan seperti apa yang Satria lakukan. Yaaa, I Hate Rain but I Love It.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar